Feeds:
Komentar

Posts Tagged ‘jati diri’

MODEL ADAPTASI PERUBAHAN LINGKUNGAN DALAM SISTEM MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN

Studi di IAIN Raden Intan Lampung dan STAIN Jurai Siwo Metro

 

LATAR BELAKANG MASALAH

Lingkungan pendidikan telah banyak mengalami perubahan. Perubahan terjadi pada norma, paradigma, dan penerapan teori-teori pendidikan. Perubahan ini seiring dengan adanya tuntutan pada mutu pendidikan. Mutu pendidikan banyak mendapatkan kritik tajam seakan-akan tidak berfungsinya rencana dan pengawasan mutu pelaksanaan program pendidikan.

Perubahan norma pendidikan terletak pada regulasi pemerintahan dengan diterbitkannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional; PP No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan; PP No. 37 tahun 2009 tentang dosen; PP no. 41 tahun 2009 tentang guru dan dosen; PP tentang Akreditasi; RUU tentang Pendidikan Tinggi. Perubahan norma merupakan dinamika tuntutan menuju pencapaian mutu.

Perubahan paradigma pendidikan juga tidak terlepas dari adanya masalah-masalah yang timbul dalam paradigma lama tentang pendidikan. Adanya perubahan paradigma bertujuan untuk memetakan kembali jati diri sistem pendidikan yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selanjutnya, perubahan pada aspek penerapan teori berkaitan dengan teori yang berkembang di Negara lain berhasil menciptakan sistem pendidikan yang terpercaya. Oleh karena itu, beberapa teori yang diterapkan selama ini dirubah pada penerapan teori lain, seperti KBK, KTSP, MBS, dan MMT.

Penelitian ini mengkaji model adaptasi perubahan lingkungan dalam sistem manajemen mutu pendidikan. Hal ini didasarkan pada perubahan yang tidak dapat dielakkan lagi, sehingga memerlukan adaptasi tertentu. Namun demikian model adaptasi yang dilakukan perlu diteliti.

Penelitian ini dilakukan pada dua lokasi yaitu lingkungan IAIN Raden Intan Lampung dan lingkungan STAIN Jurai Siwo Metro. IAIN Raden Intan dan STAIN Metro sebagai pintu masuk yang digunakan untuk mengumpulkan data empiris dan aktual dalam konteks sistem manajemen mutu pendidikan. Lokasi penelitian ini dapat dijadikan objek kasus dalam rangka menolak, memperkuat, merevisi dan/atau membentuk model manajemen mutu Perguruan Tinggi Agama Islam yang dikaitkan dengan perkembangan dan perubahan lingkungan era global. Koneksitas isu-isu dan perubahan global dengan perubahan secara lokal perlu dikembangkan sehingga terjadi adaptasi teori yang berkontribusi positif.

IAIN Raden Intan Lampung dan STAIN Jurai Siwo kini menghadapi perubahan paradigma sistem pendidikan di level yang lebih bawah sejalan dengan otonomi daerah,[1] telah berubah dari paradigma sentralistik menjadi otonomi pendidikan. Setiap Perguruan Tinggi memiliki keunikan dan kebutuhan prioritas yang relatif berbeda. Kebutuhan dasar yang berkembang dalam proses pendidikan tidak dapat diikuti oleh pemerintah pusat. Penerapan kebijakan pendidikan yang sentralistik mengakibatkan pendidikan sangat lemah di berbagai kebutuhan dasar pendidikan baik dari segi hardware, software maupun brainware.

 RUMUSAN MASALAH PENELITIAN

Penelitian ini dibatasi pada masalah model adaptasi perubahan lingkungan dalam mewujudkan sistem manajemen mutu pendidikan di IAIN Raden Intan dan STAIN Jurai Siwo. Berdasarkan batasan masalah di atas, pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: Apa saja perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan IAIN Raden Intan dan STAIN Metro dalam sistem manajemen mutu pendidikan? Bagaimana respon sivitas akademika dalam menghadapi setiap perubahan tersebut ? Bagaimana model adaptasi yang dialami oleh IAIN maupun STAIN?

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan IAIN Raden Intan dan STAIN Metro dalam sistem manajemen mutu pendidikan. Selanjutnya, mengetahui respon sivitas akademika dalam menghadapi setiap perubahan yang ada. Hal  ini akan mengarah pada penemuan model adaptasi.

MANFAAT PENELITIAN

Segi teoritis, hasil penelitian akan bermanfaat bagi pengembangan teori manajemen mutu pendidikan Islam. Segi praktis, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi pengelolaan PTAI agar bermutu sehingga memiliki daya saing global.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif.[2] Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kebijakan. Pendekatan kebijakan dalam sistem penjaminan mutu pendidikan untuk memahami wawasan dan respon pihak-pihak terkait dalam manajemen mutu pendidikan ketika terjadi suatu perubahan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif.[3] Situasi dan kultur yang dianut dikaji secara komprehensif dalam konteks makna-makna peristiwa, kejadian, dan fenomena yang muncul dalam sistem pendidikan baik di IAIN Raden Intan maupun STAIN Metro.

Instrumen pengumpulan data (IPD) menggunakan wawancara, angket, observasi dan dokumentasi. IPD digunakan secara simultan sesuai keadaan untuk saling melengkapi data penelitian yang dibutuhkan. Wawancara dilakukan secara terbuka untuk menggali alam pikiran dan wawasan informan tentang perubahan-perubahan yang terjadi, serta bagaimana respon yang terjadi. Wawancara yang dilakukan non terstruktur, sehingga memungkinkan informan yang diwawancarai sebagai subjek yang aktif mengkonstruksi dunia kognitifnya, sedangkan peneliti berusaha menangkap alam makna tersebut.[4] Namun demikian, untuk mengarah pada fokus tema penelitian, dipandu dengan pedoman wawancara yang disusun peneliti, walaupun sifatnya fleksibel.

Wawancara dilakukan secara snawball dengan Rektor, Pembantu Rektor, Dekan, Pembantu Dekan, Ketua Jurusan, Kabag, dan Kepala UPT di lingkungan IAIN Raden Intan dan STAIN Metro. Sumber data tersebut dalam implementasinya berjalan secara saling keterkaitan antara sumber data satu dengan lainnya. Hal ini peneliti lakukan untuk cross-check keabsahan data, sehingga data yang diperoleh valid dan reliabel. Hal ini menjadi dasar dalam menafsirkan dan menyimpulkan hasil penelitian tentang model adaptasi perubahan lingkungan.

Rekaman digunakan penulis ketika wawancara berlangsunguntuk merekam data hasil wawancara. Salinan rekaman kedalam bentuk tulisan dilakukan setiap kali selesai melakukan wawancara. Dengan cara demikian, peneliti dapat memilah-milah data yang relevan dengan penelitian ini. Data hasil wawancara diperhalus, dirinci dan ditafsirkan maknanya dalam konteks sistem manajemen mutu pendidikan.

Data yang tidak dapat diperoleh melalui wawancara dilakukan dengan cara angket, observasi dan dokumentasi. Angket digunakan bukan untuk dikuantifikasi, melainkan untuk menggali data.

Analisis data penelitian menggunakan analisis kualitatif. Prosedur yang dilalui yaitu display dan edit data, kategorisasi data berdasarkan fokus kajian, dan penafsiran makna substantif model adaptasi perubahan lingkungan. Editing data bertujuan untuk memilih dan memilah data. Hanya data yang relevan dengan masalah penelitian ini yang diproses lebih lanjut. Kategorisasi data merupakan pengelompokkan data yang berbeda-beda dari informan. Penafsiran data merupakan ikhtiar untuk menjelaskan makna-makna data dan mengapa terjadi demikian, serta bagaimana seharusnya perubahan lingkungan direspon oleh IAIN maupun STAIN. Data yang sudah dianalisis dan ditemukan makna dari data tersebut disimpulkan sebagai jawaban atas permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Langkah-langkah ini dalam praktiknya interaktif antara data dan analisis.

 KAJIAN TEORI MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN

Teori manajemen mutu (quality management) telah banyak diterapkan dalam berbagai bidang, industri dan akademik (industrial and academic leaders), produksi dan jasa, profit dan non-profit, baik organisasi besar maupun kecil bahkan dipercayai dan diletakkan sebagai ‘a flurry of activity’.[5] Hadirnya manajemen mutu telah mendorong anggota dalam organisasi tersebut untuk sibuk dan bergerak menuju pencapaian mutu. Deming merupakan tokoh kunci yang memberikan kontribusi pada percepatan revitalisasi ekonomi Jepang setelah Perang Dunia II melalui manajemen mutu.[6] Yoshida menyoal tentang manajemen mutu yang telah diterapkan di Jepang tersebut untuk kemudian diterapkan di Amerika Serikat yang hasilnya tidak sebaik di Jepang.[7] Walaupun kemudian banyak peneliti yang mengemukakan bahwa metode management Deming banyak diterapkan dalam perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat.[8]

Manajemen mutu yang dikemukakan Deming dikritisi oleh John C. Anderson dkk., yang menyatakan bahwa Deming sebenarnya hanya memberikan semacam petunjuk (prescriptive), bukan menjelaskan teori manajemen mutu, sehingga tampak empirik praktis dengan 14 point sebagai rambu-rambunya.[9] Oleh karena itu, Anderson merumuskan teori manajemen mutu serta aplikasi praktis sehingga dapat digunakan untuk penelitian lanjutan. Dalam hal ini, David A. Waldman  meneliti relasi antara individu-individu dalam organisasi dengan proses sistem manajemen yang menyimpulkan bahwa manajemen mutu terpadu  memiliki kontribusi terhadap teori-teori pengembangan sumber daya manusia dalam kesempurnaan kinerja.[10] Waldman mengkaji sistem manajemen dalam organisasi yang sebelumnya hanya dipandang pengembangan SDM secara individual, padahal yang terpenting adalah sistem organisasi.

Nuria Lopez Mielgo dkk., meneliti tentang hubungan antara mutu dengan manajemen inovasi yang sudah lumrah dianggap bertentangan menurutnya.[11] Hasil penelitian Mielgo menyatakan bahwa walaupun dua kegiatan tersebut adalah kompleks, tetapi kenyataannya perusahaan-perusahaan yang inovatif adalah perusahaan yang mengubah manajemen dengan menemukan manajemen mutu. Menurut Mielgo, kemampuan inovasi berhubungan dengan sumber nilai tertentu dan menjadi kemampuan akumulasi yang melebihi batas waktu sehingga memiliki nilai tambah. Oleh karena itu, dalam perusahaan atau organisasi diperlukan standar dan kontrol mutu, sehingga muncul standar terhadap proses dan produk baru.

Sim B. Sitkin dkk., mendebat karakteristik total quality manajemen dalam pendekatan tradisional yang hanya membatasi diri pada kontrol, kontrol mutu karena tidak mengandung unsur pembelajaran.[12] Sitkin dalam penelitiannya mengkaji bahwa walaupun para penggagas awal total quality management secara mendasar memberikan aturan yang terbatas, tetapi teori manajemen mutu dapat diartikulasikan lebih luas, dan diterapkan secara berbeda, namun menuntut pada proses pembelajaran. Hal ini, Sitkin mengkaji lewat keragaman perspektif untuk menemukan perbedaan antara control mutu dan pembelajaran.

Secara teoritis, manajemen mutu mudah dirumuskan, akan tetapi dalam implementasinya banyak keragaman, bahkan kesulitan sebagaimana dikaji dalam penelitian Rhonda K. Reger dkk.[13] Hasil penelitian Reger menyimpulkan bahwa kesuksesan organisasi tergantung pada kemampuan manajemen dalam menyusun model yang dinamis untuk mentransformasikan perubahan secara bertahap sesuai prioritas organisasi.

T. Ravichandran meneliti manajemen mutu dalam pengembangan sistem organisasi yang melibatkan 1000 perusahaan dan agensi pemerintahan dengan menyimpulkan bahwa mutu terbaik hanya dicapai jika top manajemen menciptakan infrastruktur yang mengenalkan perbaikan dalam desain proses dan menghubungkannya dengan stakeholders.[14]

Manajemen mutu walaupun konotasinya positif, tetapi dalam pengembangan manajemen mutu tidak selalu positif sebagaimana pembelajaran dalam kenyataannya sulit dikembangkan.[15]Jeliazkova meneliti variasi penjaminan mutu di Eropa dengan menyimpulkan bahwa dinamika eksternal dan internal sangat mempengaruhi desain penjaminan mutu. Kesimpulan ini berbeda dengan David Billing yang menyatakan bahwa dalam internasionalisasi pendidikan, penjaminan mutu eksternal menjadi model yang ditransper dari negara satu ke negara lainnya.[16]

John Biggs meneliti penjaminan mutu dalam dua perdebatan apakah sifatnya retrospective atau prospective.[17] Kesimpulan penelitian Biggs menyatakan bahwa penjaminan mutu itu sifatnya prospective yang mengandung proses Quality Model, Quality Enhancement, dan Quality Feasibility sebagai tahapan tercapainya mutu. Kesimpulan ini bertentangan dengan Bowden yang menyimpulkan bahwa penjaminan mutu adalah pengukuran terhadap apa yang sudah dilaksanakan dalam manajemen.[18]

Jitse D.J. Ameijde dkk., menyimpulkan bahwa kesuksesan organisasi (kasus yang diteliti yaitu University Kingdom) ditentukan oleh adanya distribusi kepemimpinan (distributed leadership) yang membentuk tim, bukan pada perseorangan pemimpin.[19] Penelitian ini menolak pendapat yang menyatakan bahwa produktivitas ditentukan oleh individu sebagai sumber daya manusia yang ada dalam organisasi.

Dirkvan Damme menyimpukan bahwa penjaminan mutu (QA) harus kolaborasi antara pemerintah dan institusi pendidikan dengan pengukuran yang diperluas, walaupun dalam hal kasus mobilitas penerimaan peserta didik dengan program yang sangat beragam.[20] Hal ini dengan pertimbangan bahwa stakeholders utama adalah pemerintah yang membutuhkan sumber daya manusia yang handal.

Penjaminan mutu di Australia muncul diakibatkan adanya desakan globalisasi namun juga hasilnya memberikan kontribusi pada globalisasi secara simultan.[21] Pemerintah telah memberikan kebijakan pada tahun 1990an agar lembaga pendidikan menempatkan customers utama yaitu pemerintah sebagai pemilik dana yang membutuhkan sumberdaya bagi lapangan pekerjaan.

G. Srikanthan menyimpukan pentingnya model holistik yang menggabungkan idealitas pendidikan, pelayanan dan etos perilaku dalam pendidikan tinggi sehingga terjadi sinergi antara pendidikan dan teori organisasi.[22] Penelitian Srikanthan bertolak pada hasil-hasil penelitian sebelumnya yang saling bertentangan yaitu Harvey,[23] Bensimon,[24] Birnbaum[25] dan Vazzana dkk.[26]

Berdasarkan uraian hasil-hasil penelitian tentang manajemen mutu, perdebatan akademiknya terletak pada pengukuran dan mengelola mutu itu sendiri, bukan pada penting tidaknya manajemen mutu. Nina Becket dan Maureen Brookes menyatakan bahwa banyak negara mengadopsi model pengukuran mutu yang berbeda-benda.[27]

Berdasarkan kajian teori terdahulu dapat dipahami bahwa masalah mutu pendidikan erat kaitannya dengan model manajemen yang diimplementasikan dalam lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena itu, manajemen mutu perlu dikelola dengan baik oleh seluruh komunitas lembaga pendidikan, sehingga benar-benar sejalan dengan perkembangan teori dan dinamika kebutuhan realitas yang berkembang dalam masyarakat.

Sistem manajemen mutu dalam bidang pendidikan masih tergolong baru dibandingkan dengan manajemen mutu bidang ekonomi industri.[28] Edward Sallis mengatakan bahwa gerakan untuk menerapkan manajemen mutu dalam bidang pendidikan dimulai sejak tahun 1980-an di Amerika Serikat terbatas dalam colleges.[29] Pada tahun 1990-an berkembang di lembaga pendidikan formal dan mulai menyadari pentingnya manajemen mutu. Para tokoh pendidikan yang tergabung dalam bentuk asosiasi telah mengkaji tentang penerapan manajemen mutu. Robert Kaplan dalam hasil penelitiannya memberikan input pada manajemen mutu di Harvard Business School walaupun hanya terbatas pada relevansi kurikulum pendidikan dengan dunia industri.[30] A. Roberts melakukan penelitian tentang manajemen mutu dalam aspek kepuasan customers, orangtua dan dunia kerja yang menyatakan bahwa terdapat variasi cara manajemen untuk mewujudkan kepuasan tersebut.[31] Pasca tahun 1990-an gerakan manajemen mutu mulai bergerak ke Eropa untuk mengkaji gap (kesenjangan) antara kebutuhan industri dengan hasil-hasil pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan. Pada waktu itu di Eropa masih sedikit kesadaran pentingnya manajemen mutu terutama dalam bidang pendidikan.[32]

Teori manajemen mutu kemudian menjadi kebutuhan dalam mengelola lembaga-lembaga pendidikan hingga era persaingan merebut jaminan mutu. Pemerintah, masyarakat dan pengguna jasa pendidikan sangat membutuhkan lembaga pendidikan yang bermutu. Hal ini harus direspon oleh para pengelola lembaga pendidikan baik dasar, menengah maupun pendidikan tinggi. Sikap demikian akan memberikan manfaat besar baik kepada internal maupun eksternal. Secara internal lembaga pendidikan akan berkembang dan maju sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan tarap hidup yang lebih baik bagi semua anggota institusi pendidikan tersebut. Secara eksternal akan mendapatkan kepuasan layanan pendidikan sehingga mendukung program-program yang ditetapkan lembaga. Hubungan timbal balik antara internal-eksternal secara simultan akan mencerdaskan kehidupan yang bermartabat di mata dunia internasional.

Para tokoh dalam bidang pendidikan berbeda pandangan tentang teori manajemen mutu. Hal ini berkaitan dengan ciri-ciri pendidikan bermutu dan bagaimana cara mewujudkan ciri-ciri tersebut. Atas dasar ini, beberapa teori yang berkembang dalam manajemen mutu sebagai upaya untuk meningkatkan dan menjamin mutu yaitu quality control (QC)[33], quality assurance (QA),[34] total quality control (TQC)[35], total quality management (TQM)[36] dan school base management (SBM).[37] Semua teori menempatkan quality (mutu) sebagai pusat pengawasan dan evaluasi mutu. Jika diklasifikasi dalam bidangnya, dua teori yang terakhir menjadi isu yang populer dalam bidang pendidikan, karena TQM dan SBM memiliki bangunan teori yang lebih relevan dengan karakteristik pendidikan sebagai layanan jasa, kecuali TQM selain pendidikan juga lebih dahulu digunakan dalam bidang ekonomi-produksi. Sedangkan tiga teori terdahulu lebih banyak diterapkan dalam dunia ekonomi industri layanan produksi barang yang sudah mapan digunakan sebagai strategi untuk memberikan kepuasan pelanggan.

Kajian kritis perlu dilakukan dalam menghadapi keragaman teori manajemen mutu di atas. Sebab, terkadang suatu teori yang tepat digunakan dalam bidang tertentu, belum tentu tepat untuk bidang lainnya; teori yang berkembang pesat di suatu negara, belum tentu berkembang di negara lainnya mengingat adanya perbedaan-perbedaan yang secara alamiah tidak dapat dipungkiri. Hal ini seringkali mengundang perdebatan akademik dalam teori manajemen mutu pendidikan.

Teori manajemen mutu dalam bidang pendidikan masih banyak didasarkan pada teori mutu yang dikembangkan dalam bidang ekonomi oleh para tokoh mutu yaitu Deming,[38] Juran,[39] Figenbaum,[40] dan Crosby[41] walaupun di antara mereka sendiri masih terdapat perbedaan dalam mendefinisikan mutu dan cara pengukurannya. Para ahli tersebut telah memberikan inspirasi dan mimpi-mimpi besar sebagai dasar-dasar manajemen mutu dalam lembaga pendidikan. Para tokoh mutu tersebut selalu muncul dalam tulisan-tulisan tentang manajemen mutu.

Sukses yang telah diraih oleh para ahli dalam bidang ekonomi tersebut banyak mengilhami para ahli dalam bidang pendidikan untuk menerapkan manajemen mutu berdasarkan konsep-konsep tokoh tersebut walaupun melalui adaptasi-adaptasi teori. Sebab, ketika teori manajemen mutu dalam bidang ekonomi diadopsi ke dalam bidang pendidikan, ternyata banyak menimbulkan masalah, karena adanya perbedaan karakteristik antara ekonomi-industri dengan pendidikan. Hal ini menimbulkan kajian menarik di kalangan para pemikir/pakar pendidikan untuk mengkaji relevansi manajemen mutu dengan indikator-indikator mutu dalam bidang pendidikan. Konstruksi berpikir antara manajemen mutu pendidikan dengan manajemen mutu ekonomi-industri sangat berbeda, sehingga faktor kunci tercapainya mutu itu sendiri menjadi sangat berbeda dan lebih kompleks dalam bidang pendidikan.[42] Misalnya, para peserta didik sebagai manusia dinamis turut serta menentukan tercapai tidaknya mutu yang ditetapkan lembaga pendidikan. Hal ini tidak sedikit, gagalnya pencapaian mutu, karena peserta didik tersebut tidak berusaha mewujudkannya. Sedangkan dalam bidang ekonomi-industri, bahan baku yang diproduksi tergantung sepenuhnya pada proses dan prosedur baku yang sudah didesain sedemikian rupa. Atas dasar perbedaan ini perlu dikaji dan dirumuskan model manajemen mutu untuk lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai dengan karakteristiknya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dinamika Perubahan dalam Sistem Pendidikan

Perubahan dalam sistem pendidikan Islam telah nyata dan terus berkembang. IAIN Raden Intan dan STAIN Metro sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam berstatus negeri di bawah binaan Kementerian Agama RI menghadapi tuntutan perubahan. Namun demikian, tidak setiap tuntutan perubahan dapat diikuti dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh data penelitian bahwa STAIN Metro belum memanfaatkan peluang PK-BLU yang sebenarnya telah menjadi instruksi Kementerian Agama bahwa seluruh PTAIN sampai tahun 2012 harus menjadi PK-BLU. Sedangkan IAIN Raden Intan sudah melakukan perubahan menjadi status PK-BLU sejak bulan April 2010 dan dinyatakan BLU penuh untuk masa lima tahun (2010-2015).

Tujuan PK-BLU yaitu meningkatkan mutu akademik dengan mengoptimalkan sumber-sumber pendanaan PNBP Non Akademik. Dalam hal ini dimungkinkan karena danya kewenangan IAIN Raden Intan untuk membelanjakan langsung anggaran dari PNBP non akademik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan layanan akademik.

Tuntutan perubahan dalam sistem pendidikan selanjutnya adalah kebijakan Kementerian Agama RI tentang sistem penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SPMB Nasional PTAIN sejak tahun 2010. SPMB PTAIN ini bertujuan agar perguruan tinggi dapat bersaing secara nasional dengan menseleksi calon-calon mahasiswa terbaik. SPMB PTAIN ini telah dilakukan oleh IAIN Raden Intan Lampung dan sejak tahun 2011, hasilnya sangat signifikan yaitu pendaftar calon mahasiswa terbanyak rangking ke-3 se-Indonesia setelah UIN Malang dan UIN Makasar. Melalui SPMB PTAIN yang dilakukan oleh IAIN Raden Intan telah mengubah citra secara nasional bahwa kampusnya sangat diminati oleh masyarakat. Di samping itu, ketentuan kebijakan Kementerian Agama bahwa minimum 60% mahasiswa baru wajib dijaring melalui SPMB PTAIN maka IAIN Raden Intan telah melampaui target minimum tersebut.

Berbeda halnya dengan STAIN Metro walaupun telah berusaha menjaring melalui SPMB PTAIN namun hasilnya belum ada. Dalam hal ini, STAIN Metro belum mampu memanfaatkan peluang persaingan secara nasional. Tuntutan SPMB PTAIN akan terus berjalan seiring dengan tingkat persaingan mutu calon mahasiswa baru secara nasional.

Perubahan selanjutnya yaitu tuntutan pemerintah tentang Akreditasi melaui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Seiring dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, maka setiap perguruan tinggi wajib melakukan akreditasi sesuai dengan standar nasional. Sejak tahun 2008, tuntutan akreditasi terdiri atas dua (2) bagian, yaitu akreditasi prodi dan akreditasi institusi.

IAIN Raden Intan dan STAIN Metro telah melakukan akreditasi prodi dengan baik. Hal ini, pada tahun 2011 saat penelitian ini dilakukan, semua prodi jenjang S-1 di IAIN telah diakreditasi oleh BAN-PT kecuali prodi baru yang mendapat izin operasional yaitu BKI, Pendidikan Fisika, Pendidikan Matematika dan PGMI. Demikian juga di STAIN Metro semua prodi jejang S-1 sudah terakreditasi. Hal ini menunjukkan bahwa IAIN dan STAIN telah melakukan perubahan dalam bidang mutu prodi.

Berbeda halnya dalam akreditasi Institusi bahwa STAIN Metro belum melakukan Akreditasi Institusi yang menjadi kebijakan BAN-PT sejak tahun 2008. Sedangkan IAIN Raden Intan telah melakukan akreditasi Institusi pada tahun 2008 (2008-2014). Meskipun peringkat C hasil akreditasi institusi (hal ini dialami sama oleh UNILA), namun IAIN Raden Intan telah berupaya melakukan perubahan status kelembagaan. Hal ini sangat diperlukan oleh para stekholders.

Perubahan selanjutnya yaitu kebijakan pemerintah tentang dosen, UU No. 14 tahun 2003; PP No. 37 tahun 2009. IAIN Raden Intan dan STAIN Metro telah melakukan perubahan nasib para dosen sehingga meningkat kesejahteraan, yaitu mendapatkan tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok yang dibayarkan setiap bulan. Seiring dengan itu, dosen menjadi guru besar semakin bertambah signifikan karena juga mendapat tunjangan kehormatan sebesar dua kali gaji pokok. Saat ini (2011) IAIN Lampung telah memiliki dosen lulus sertifikasi sebanyak 208 orang; dan memiliki guru besar sebanyak 11 orang. Dosen lulus S-3 di lingkungan IAIN Raden Intan Lampung saat ini (2011) berjumlah 47 orang.

Tabel

Dinamika Perubahan dalam Sistem Pendidikan

Bidang Tuntutan Perubahan IAIN Raden Intan STAIN Metro
Anggaran PK-BLU Ya, Penuh Tidak
Penerimaan Mhs Baru SPMB-PTAIN Ya, Berhasil Ya, Belum berhasil
Akreditasi prodi Instrumen 2008 Ya Ya
Akreditasi Institusi Instrumen 2008 Ya Tidak
Tenaga Pendidik Sertifikasi Dosen Ya Ya

 

Respon Sivitas Akademika dalam Perubahan

Tuntutan perubahan telah nyata yakni sejak diundangkannya undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur sistem pendidikan nasional, termasuk perguruan tinggi agama Islam yang menjadi sub sistem pendidikan nasional. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua tuntutan perubahan dapat secara langsung dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi. Hal ini dapat dimaknai sebagai proses dinamika, yang terus berjalan seiring dengan tingkat kesiapan dan respon masing-masing sivitas akademikanya.

Respon sivitas akademika IAIN Raden Intan Lampung terhadap perubahan satker biasa menjadi satker PK-BLU masih pesimis. Alasannya, karena mekanisme kerja dan perangkat pendukung untuk mengimplementasikan PK-BLU belum dibentuk. Apa yang sudah tertulis dalam dokumen usulan PK-BLU masih banyak yang belum ditaati. Pada saat yang sama, akibat dari fleksibiltas penggunaan anggaran PNBP Non Akademik cenderung untuk “diotak-atik” berdasarkan kehendak pimpinan, sehingga banyak mengalami revisi anggaran. Revisi anggaran adalah dibenarkan, namun harus tetap sesuai dengan dasar kebutuhan yang telah ditetapkan bersama dalam rapat kerja pimpinan. Akibat revisi anggaran yang berulang, maka proses penggunaan anggaran menjadi sangat lambat dan realisai program tertunda.

Berbeda halnya dengan respon sivitas akademika STAIN Metro terhadap tuntutan perubahan PK-BLU yaitu masih menunggu waktu dan kesiapan dokumen usulan ke kementerian keuangan cq kementerian agama. Hal ini menyebabkan STAIN Metro belum menjadi satker PK-BLU.

Respon sivitas akademika IAIN Raden Intan terhadap SPMB PTAIN sangat positif. Pimpinan telah menunjukkan hal yang serius dalam mensukseskan program seleksi mahasiswa baru melalui SPMB PTAIN. Hal ini juga didorong oleh tuntutan SPM dalam PK-BLU bahwa tahun 2011, IAIN Lampung harus menerima mahasiswa baru minimal 1.600 orang. Hal ini sudah tercapai bahkan melampaui target.

Berbeda halnya dengan respon sivitas akademika STAIN Metro yang masih pesimis, karena status kelembagaan STAIN berada di bawah IAIN dan UIN. Oleh karena itu, pimpinan STAIN Metro berupaya untuk mengubah STAIN menjadi IAIN. Hal ini sama dialami oleh STAIN lainnya, persaingan secara nasional belum mampu bersaing. Oleh karena itu, penerimaan mahasiswa baru anatara UIN, IAIN dan STAIN menunjukkan bahwa UIN jauh lebih banyak dapat menerima mahasiswa baru setiap tahunnya. IAIN Lampung pun dapat meningkatkan status menjadi UIN sehingga jumlah mahasiswa baru makin bertambah yang tentunya diimbangi dengan ketersediaan dosen dan sarana prasarana yang memadai.

Respon sivitas akademik IAIN Raden Intan Lampung dan STAIN Metro terhadap Akreditasi masih beragam antara optimis dan pesimis. Sebagian besar optimis karena sudah menjadi tuntutan dan kebutuhan internal tentang mutu kelembagaan. Sedangkan sebagian kecil pesimis, karena instrumen akreditasi yang baru, sehingga belum ada pola sebelumnya. Walaupun perpanjangan akreditasi, tetapi para ketua jurusan yang baru masih menilai belum mengetahui banyak data-data yang ada pada prodi tersebut.

Respon sivitas akademika IAIN Raden Intan Lampung dan STAIN Metro terhadap sertifikasi dosen semuanya optimis dan positif. Hal ini dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dosen sehingga dapat bekerja penuh perhatian di kampus. Namun demikian, masih tersisa persoalan yang belum direspon baik oleh sivitas akademika yaitu laporan kinerja setiap semester dan setiap tahun menjadi laporan pada Dirjen Pendis Kementerian Agama RI sebagai dasar untuk pembayaran tunjangan tahun berikutnya.

 

Tabel

Respon Sivitas Akademika dalam Perubahan

 

Perubahan Tujuan Proses Respon
PK-BLU Fleksibilitas pengelolaan Anggaran -Usul PK-BLU

-Penetapan PK BLU Penuh

-RBA

-Realisasi Anggaran

-Sebagian besar sivitas akademika IAIN pesimis tentang akuntabilitas PK- BLU

-STAIN belum ada PK-BLU

SPMB-PTAIN Menjaring mutu Calon Mahasiswa secara nasional -Daftar online

-Seleksi Ujian nasional

-Kelulusan Nasional

-Registrasi Lokal

-Pimpinan IAIN Merespon sangat Positif

-Pimpinan STAIN sangat kurang positif

Aturan dan Instrumen Akreditasi prodi dan Institusi Menjamin Mutu Prodi dan Institusi -Evaluasi Diri

-Penyusunan Borang Prodi, Fakultas, Institusi

-Desk evaluation

-Assesment Lapang

Sebagian besar sivitas akademika IAIN dan STAIN merespon positif
Sertifikasi dan Laporan Kinerja Dosen Menjamin profesionalitas dosen -Mengusulkan Kuota

-Menyusun Portfolio

-Sidang kelulusan -Mendapat Tunjangan

-Laporan semester dan tahunan

-Semua sivitas akademika IAIN dan STAIN merspon positif

-Laporan Kinerja Dosen kurang positif

Model Adaptasi Manajemen Mutu Pendidikan

Tuntutan perubahan baik level kebijakan, paradigma, teori, dan implementasi dalam realitasnya sangat ditentukan oleh respon yang diberikan. Perubahan yang terjadi di lingkungan eksternal direspon secara beragam oleh masing-masing perguruan tinggi. Dalam konteks manajemen mutu pendidikan, dinamika eksternal dan internal harus terjadi kompelementer. Dinamika ekternal akan menjadi indikator pengakuan publik, sedangkan dinamika internal akan menjadi akuntabilitas dan jaminan mutu berkelanjutan.

Banyaknya model yang berkembang di lingkungan eksternal berkaitan dengan manajemen mutu pendidikan yang telah dilakukan dalam mengelola tuntutan perubahan (kebijakan, paradigma, teori, implementasi), maka lembaga pendidikan tertentu akan melakukan adaptasi-adaptasi tertentu; jika tidak melakukan adopsi. Model adopsi mengindikasikan tidak mandiri, tidak kreatif bahkan dalam bidang tertentu tidak diizinkan. Oleh sebab itu, model adaptasi paling banyak dilakukan oleh lembaga pendidikan.

Model adaptasi yang dilakukan di IAIN Raden Intan Lampung yaitu M-TD (midle-topdown). Regulasi pemerintah tentang tuntutan perubahan yang dijelaskan di atas, telah direspon oleh IAIN Raden Intan mulai dari midle yaitu unit-unit kerja di level rektorat sejalan dengan program kerja. Unit kerja mendapatkan persetujuan Rektor untuk selanjutnya diimpelentasikan ke seluruh sivitas akademika. Misalnya, dalam PK-BLU diadaptasi oleh Bagian Keuangan, Perencanaan, kepegawaian, PPMP, Lemlit dan LPM. Setelah level ini selesai mengadaptasi PK-BLU, implementasinya berlaku untuk unit kerja terkecil dan seluruh sivitas akademika.

Akreditasi Institusi diadaptasi oleh PPMP atas persetujuan PR-1 yang kemudian dampaknya dapat dimanfaatkan oleh seluruh sevitas akademika. Kecuali akreditasi prodi, menganut model buttom-up. Sertifikasi dan laporan kinerja dosen diadaptasi oleh PPMP dengan merekrut asesor baru secara mandiri.

 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian di IAIN Raden Intan Lampung dan STAIN Jurai Siwo Metro dapat disimpulkan bahwa: ada kesamaan perubahan terjadi disebabkan oleh adanya dinamika sistem penjaminan mutu eksternal. IAIN dan STAIN melakukan penjaminan mutu kelembagaan karena adanya tuntutan dari BAN-PT sebagai pengawal mutu prodi dan institusi perguruan tinggi. IAIN dan STAIN melakukan proses penjaminan mutu dosen karena adanya tuntutan sertifikasi dosen dari peraturan pemerintah. Namun ada juga perbedaan anatar IAIN dan STAIN yaitu IAIN teah merespon baik dinamika jumlah mahasiswa di IAIN Raden Intan karena tuntutan standar pelayanan minimum dari Menteri Agama dalam sistem PK-BLU dan tuntutan kementerian Agama cq Dirjen Pendis tentang minimal 60% mahasiswa baru direkrut melalui jalur SPMB PTAIN nasional. IAIN merespon baik tuntutan laporan kinerja dosen pasca sertifikasi melalui laporan semester dan merekrut para asesor baru untuk beban kinerja dosen.

DAFTAR PUSTAKA

Allison, Michael and Jude Kaye, Strategic Planning for Nonprofit Organizations. Sanpransisco: Support Center, 1997.

Anderson, John C. et.al. “A Theory of Quality Management Underlying the Deming Management Method”, dalam The Academy of Management Review, Vol. 19 No. 3, Juli 1994.

Banks, Jerry. Principles of Qualities Control. Singapore: John Willey & Sons, 1994.

Bensimon. Total Quality Management in the Academy: A Rebellious Reading. Harvard Educational Review, Vol. 65, No. 4, 1995.

Biggs, John. The Reflective Institution: Assuring and Enhancing the Quality of Teaching and Learning. Netherlands: Higher Education, Vol. 41, 2001.

Billing, David. International Comparisons and Trends in External Quality Assurance of Higher Education: Commonality or Diversity. Netherlands: Higher Education, Vol. 47, No. 1, January 2004.

Birnbaum, R. and J. Deshotels, Has the Adopted TQM?” Planning for Higher Education, Vol. 28, No. 1, 1999.

Campbell, J.P Dunnete et.al., Managerial Behavior, Performance, and Effectiveness. NewYork: McGraw Hill, 1970.

Carter, Carla C. Human Resource Management and the Total Quality Imperative. USA: AMACOM, 1994.

Cohen, S., & Brand, R. Total Quality Management in Government: A Practical Guide for the Real World, San Francisco: Josey-Bass, 1993.

Crosby, Philip B. Quality is Free: The Art of Making Quality Certain, New York, McGraw-Hill, 1879.

Crosby, Philip B. Quality Without Tears: The Art of Hassle-Free Management, Milwaukee, WI: Quality Press, 1984.

Damme, Dirk Van. Quality Issues in the Internationalisation of Higher Education, Netherlands: Higher Education Vol. 41, 2001.

Davis, G. Russel. Planning Education for Development: Volume Issue and Problems in The Planning of Education in Developing Countries, Cambridge: Massachusetts, 1996.

Dean, J.W., Jr & Evans. J. Total Quality: Management, Organization, and Strategy, St. Paul, MN., West, 1994.

Deming, W. Edward. Out of the Crisis, Combridge University Press, Combridge, 1986.

Deming, W. Edward. Quality, Productivity, and Competitive Position, Combridge: MIT, Center for Advanced Engineering Study, 2007.

Feigenbaum, A.V. Total Quality Control, 4th ed, New York: McGraw-Hill, 1991.

Fuhrman. Designing Coherent Education Policy: Improving the System, San Francisco: Jossey Bass, 1993.

Goetsch, David L dan Stanley B Davis. Introduction to Total Quality Management for Production, Processing, and Service, USA: Prentice Hall, 1997.

Grant, Robert M., Rami Shani, and R. Krishnan. TQM’s Challenge to Management Theory and Practice. Sloan Management ReviewAVinter, 1994.

Griffin, Rosarii. Education in The Muslim World: Diferent Perspectives, Oxford: Symposium Books, 2006.

Hammond, Paula and Tilaye Yeshanew, “The Impact of Feedback on School Performance”, dalam Educational Studies, Vol. 33, No. 2, June 2007.

Harvey. Beyond TQM, Quality in Higher Education, Vol. 1, No. 2, 1995.

Hersey, P. & P. Blanchard, Management of Organizational Behavior Utilizing Human Resources, London: Prentice Hall International Edition, 9th Edition, 1995.

Hodgson, A. Deming’s Never-ending road to Quality, Personnel Management, July 1987.

Hoy, Charles, et.al. Improving Quality in Education, London: Falmer Press, 2000.

Hoy, W.K. & C.G. Miskel, Educational Administration Theory, Research, and Practice, New York: Random House Inc, 2005.

Hoyle, E. The Process of Management, in E523 Management and School, Milton Keynes, Open University Press, 1981.

Ishikawa, Kaoru. What Is Total Quality Control? New Jersey, Prentice-Hall, 1985.

Ishkawa, Kaoru. Guide to Quality Control, Asian Productivity Organization, New York: UNIPUB, 1996.

Jeliazkova, Margarita & Don F. Westerheijden, Systemic Adaptation to a Change Environment: Toward a Next Generation of Quality Assurance Models, Netherlands: Higher Education Vol. 44, 2002.

Juran, J.M. dan Frank M. Gryna (Ed). Juran’s Quality Control Handbook, 4th Edition, New York, McGraw-Hill, 1988.

Juran, J.M. Quality Planning and Analysis, New York: McGraw-Hill, 1980.

Juran, J.M. The Quality Trilogy: A Universal Approach to Managing for Quality, Quality Progress, Volume 19 No. 8, 1986.

Kaplan, Robert. The Total Quality Forum: Forging Strategic Links with Higher Education, Proceedings, Ohio, Agustus 1991.

Kekale, Jouni. “Quality Assesment in Diverse Disciplinary Settings”, dalam Jurnal “Higher Education”, Vol. 40, No. 4, December 2000, Kluwer Academic Publishers, Netherlands.

Kydd, Lesley, et.al. Profesional Development for Educational Management, Philadelphia: Open University Press, Buckingham, 1997.

Mielgo, Nuria Lopez, et.al., “Are Quality and Innovation Management Conflicting Activies?”, dalam Jurnal Technovation, Vol. 29 tahun 2009.

Pardy, David. Quality Assurance, Conference Paper CP516, Blagdon, The Staff Colledge, Januari 1992.

Pawlowski, Jan M. The Quality Adaptation Model: Adaptation and Adoption of the Quality Standar ISO/IEC 19796-1 for Learning, Education, and Training, Vol 10(2), Educational Technology & Society, 2007.

Powell, Thomas C. “Total Quality Management As Competitive Advantage. A Review and Empirical Study”, dalam Jurnal, Strategic Management Journal, Vol. 16, 21 February 1995, John Wiley & Sons Ltd. Final Revision Received

Ravichandran, T. & Arun Rai, Quality Management in Systems Development: An Organizational System Perspective, (USA: MIS Quartely Research Article, Vol. 24 No. 3, September 2000)

Reger, Rhonda K. et.al., “Reframing the Organization: Why Implementing Total Quality is Easier Said Than Done”, dalam Jurnal Academy of Management Review, Vol. 19 No. 3  tahun 1994.

Roberts, A. Establishing Customer Needs and Perceptions, Mendip Paper MP 031, Blagdon, The Staff College, 1992.

Roth, Klas. “Deliberative Pedagogy: Ideas for Analysing the Quality of Deliberation in Conflict Management in Education, dalam Study Philosophy Education, Volume 27, 8 November 2008.

Sallis, Edward. Total Quality Management in Education, London: Kogan Page Education Management Series, 1993.

Saraph, J.V., Benson, P.G., & Schoeder, R.G. An Instrumen for Measuring the Critical Factors of Quality Manajemen, Decision Sciences, Vol. 20 tahun 1989.

Sashkin, M & Kisser, K.J, Putting Total Quality Management to Work, San Francisco, Berret Koehler Publiser, 1993.

Sashkin, M., & Kiser, K.J. Total Quality Management, San Franscisco: Berett-Koehler, 1993.

Schargel, Franklin. Transforming Education Through Total Quality Managemen: A Practitioner’s Guide, New York: EYE on Education, 1993.

Scherkenbach. W.W. Performance Appraisal and Quality: Ford’s new Philosophy, Quality Progress, Vol. 18 No. 4, 1986.

Schuler, Randall S. Personnel and Human Resource Management, New York: West Publishing Company, Third Edition, 1987.

Shaples, et.al. “How TQM Can Work in Education”, dalam Quality Progress, May, 2003.

Sitkin, Sim B. et.al “Distinguishing Control From Learning in Total Quality Management: A Contingency Perspective”, dalam Jurnal Academy of Management Review, Vol. 19 No. 3  tahun 1994.

Srikanthan, G. Developing a Holistic Model for Quality in Higher Education, Melbourne Australia: Centre for Management Quality Research, RMIT University, 2002.

Tenner, A.R., & DeToro, I.J. Total Quality Management: Three Steps to Continuous Improvement. Reading, MA: Addison-Wesley, 1992.

Waldman, David A. “The Contributions of Total Quality Management to A Theory of Works Performance”, dalam Jurnal The Academy of Management Review. Vol. 19 No. 3, Juli 1994.

Yoshida, K. Deming Management Philosophy: Does it Work in The United States as Well as in Japan? Columbia Journal of World Business, Vol. 24, No. 3, 1989.

 

 

 

 

 

 

 

CARA NGEPRINT

 

28-1

2-27

 

26-3

4-25

 

24-5

6-23

 

22-7

8-21

 

20-9

10-19

 

18-11

12-17

 

16-13

14-15


[1] Undang-undang Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 1999, (Bandung: Citra Umbara, 2001), 23.

[2] Penelitian kualitatif mementingkan makna yang terkandung dalam data, sedangkan kuantitatif mementingkan hasil pengukuran yang dikuantifikasi.  Lihat, S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 1996), 12; Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosdakarya, 1999),  15.

[3] Metode penelitian diklasifikasi menjadi empat macam, yaitu metode sejarah, eksperimen, filsafat dan deskriptif. Pembagian ini sudah berlangsung sejak tahun 1931 M, yang kemudian dikembangkan terus menjadi beberapa cabang, antara lain: metode survey, studi kasus, studi komparatif, grounded research, action research, dan developmental research. Lihat, Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), 44-110; Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1982), 131-161.

[4] Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosdakarya, 2004), 181.

[5] Pengertian a flurry of activity yaitu kegiatan yang sibuk secara tiba-tiba sehingga menimbulkan kebingunan bagi pelakunya. Lihat Bussiness Week, The Quality Imperative: What it Takes to Win For the Global Economy, (special issue, 25 Oktober 1992), 1-216.

[6] W. Edward Deming, Out of the Crisis, (Combridge University Press, Combridge, 1986), 32; W.Edward Deming, Quality, Productivity, and Competitive Position, (Combridge: MIT, Center for Advanced Engineering Study, 1982), 21; M. Walton, The Deming Management Method, (New York: Putnam, 1986), 121-238.

[7] K. Yoshida, Deming Management Philosophy: Does it Work in The United States as Well as in Japan? (Columbia Journal of World Business, Vol. 24, No. 3, 1989), 10-17.

[8] A. Hodgson, Deming’s Never-ending road to Quality, (Personnel Management, July 1987), h. 40-44; W.W. Scherkenbach, Performance Appraisal and Quality, (Ford’s new Philosophy, Quality Progress, Vol. 18, No. 4, 1986), 40-46.

[9] Lihat, John C. Anderson dkk., “A Theory of Quality Management Underlying the Deming Management Method,” dalam Academy of Management Review, (Vol. 19 No. 3 tahun 1994), 472-509.

[10] David A. Waldman, “The Contributions of Total Quality Management to A Theory of Work Performance,” dalam Academy of Management Review, (Vol. 19 No. 3  tahun 1994), 510-536.

[11] Nuria Lopez Mielgo dkk., “Are Quality and Innovation Management Conflicting Activies?,” dalam Technovation, (Vol. 29 tahun 2009), 537-545.

[12] Sim B. Sitkin dkk., “Distinguishing Control From Learning in Total Quality Management: A Contingency Perspective,” dalam Academy of Management Review, (Vol. 19 No. 3  tahun 1994), 537-564.

[13] Rhonda K. Reger dkk., “Reframing the Organization: Why Implementing Total Quality is Easier Said Than Done,” dalam Academy of Management Review, (Vol. 19 No. 3  tahun 1994), 565-584.

[14]T. Ravichandran, Quality Management in Systems Development: An Organizational System Perspective, (MIS Quartely Research Article Vol. 24 No. 3, September 2000), 381-415.

[15] Margarita Jeliazkova & Don F. Westerheijden, “Systemic Adaptation to a Change Environment: Toward a Next Generation of Quality Assurance Models,” dalam Higher Education, (Vol. 44, Tahun 2002), 433-448.

[16] David Billing, “International Comparisons and Trends in External Quality Assurance of Higher Education: Commonality or Diversity,” dalam Higher Education, (Vol. 47, No. 1, January 2004, Kluwer Academic Publishers, Netherlands), 113-137.

[17] John Biggs, “The Reflective Institution: Assuring and Enhancing the Quality of Teaching and Learning,” dalam Higher Education, (Vol. 41, 2001), 221-238.

[18] J. Bowden & F. Marton, The University of Learning, Beyond Quality and Competence in Higher Education, Edisi I, (Kogan Page: London UK, 1998).

[19] Jitse D.J. Van Ameijde dkk., “Improving Leadership in Higher Education Institution: a Distributed Perspective,” dalam High Education, (Vol. 58, 2009), 763-779.

[20] Dirk Van Damme, “Quality Issues in the Internationalisation of Higher Education,” dalam Higher Education, (Vol. 41, 2001), 415-441.

[21] Lesley Vidovich, “Quality Assurance in Australian Higher Education: Globalization and Steering at a Distance,” dalam Higher Education, (Vol. 43, 2002), 391-408.

[22] G. Srikanthan, Developing a Holistic Model for Quality in Higher Education, akses internet tanggal 12 Desember 2009, jam 16.00 Waktu Melbourne Australia, http://www.unimelb.au.ed

[23] Harvey, Beyond TQM, Quality in Higher Education, (Vol. 1, No. 2, 1995), 123-146.

[24] Bensimon, “Total Quality Management in the Academy: A Rebellious Reading,” dalam Harvard Educational Review, (Vol. 65, No. 4, 1995), 593-611.

[25] Birnbaum mengatakan bahwa TQM hanya mitos dan ilusi. Lihat R. Birnbaum dan J. Deshotels, “Has the Adopted TQM?” dalam Planning for Higher Education, (Vol. 28, No. 1, 1999), 29-37.

[26] Vazanna dkk., “A Longitudinal Study of Total Quality Management Processes in Business Colleges,” dalam Journal of Education for Business, (Vol. 76, No. 2, 2000), 69-74.

[27] Nina Becket dan Maureen Brookes, “Quality Management Practice in Higher Education: What Quality Are We Actually Enhancing,” dalam Journal of Hospitality, Leisure, Sport & Tourism Education, (Vol. 7, No. 1, 2007), 44.

[28] HMIE, Quality Management in Education: Self-Evaluation for Quality Improvement (Skotlandia: Denholm House Almondvale Bussiness Park, April 2006), iii.

[29]Referensi tentang manajemen mutu dalam pendidikan publikasinya dimulai tahun 1990-an. Hal ini dapat dikaji dalam referensi yang digunakan oleh Edward Sallis sebagai tokoh yang banyak dibahas dalam bidang manajemen pendidikan. Lihat, Edward Sallis, Total Quality Management in Education (London: Kogan Page, 1993), 18. Dalam bidang industri dimulai sejak tahun 1980-an, lihat G. Srikanthan, Developing a Holistic Model for Quality in Higher Education, akses internet tanggal 12 Desember 2009, jam 16.00 Waktu Melbourne Australia, http://www.unimelb.edu.au

[30]Robert Kaplan, The Total Quality Forum: Forging Strategic Links with Higher Education (Ohio: Proceedings, Agustus 1991), 25.

[31]A. Roberts, Establishing Customer Needs and Perceptions (Blagdon: Mendip Paper MP 031, The Staff College, 1992), 65.

[32]Edward Sallis, Total Quality Management in Education (London: Kogan Page, 1993), 18.

[33] J. M. Juran dan Frank M. Gryna (Ed), Juran’s Quality Control Handbook, 4th Edition (New York: McGraw-Hill, 1988), 21.

[34] Fion Lim C.B., “Quality Assurance of Australian Offhore Education: The Complexity and Possible Frameworks for Understanding the Issues,” dalam Post-Script: Postgraduate Journal of Education Research (Vol. 8, No. 1, August 2007), 19-36; Departemen of Education, Training and Youth Affairs, The Australian Higher Education Quality Assurance Framework (Australia: Occasional Paper Series 2000-H, Commonealth of Australia, 2000), 23; Jouni Kekale, “Quality Assesment in Diverse Disciplinary Settings,” dalam Higher Education (Vol. 40, No. 4, December 2000, Kluwer Academic Publishers, Netherlands), 465-488; David Billing, “International Comparisons and Trends in External Quality Assurance of Higher Education: Commonality or Diversity,” dalam Higher Education (Vol. 47, No. 1, January 2004, Kluwer Academic Publishers, Netherlands), 113-137; David Pardy, Quality Assurance (Conference Paper CP516, Blagdon, The Staff Colledge, Januari 1992), 32; Edward Sallis dan Peter Hingley, College Quality Assurance Systems (Mendip Paper MP 020, Blagdon, The Staff College, 1991), 22.

[35] Kaoru Ishikawa, What Is Total Quality Control? (New Jersey: Prentice-Hall, 1985), 23.

[36]John C. Anderson, dkk., “A Theory of Quality Management Underlying the Deming Management Method,” dalam The Academy of Management Review, (Vol. 19 No. 3, Juli 1994), 472-509; David A. Waldman, “The Contributions of Total Quality Management to A Theory of Works Performance,” dalam The Academy of Management Review, (Vol. 19 No. 3, Juli 1994), 510-536.

[37]Karya ilmiah dalam bidang SBM dapat dilihat dalam banyak literatur yaitu: Y. C. Cheng, School Effectiveness and School-Based Management: A Mechanism Development, (London: The Falmer Press, 1996); Bandingkan dengan K. J. Amundson, School-Based Management: A Strategy for the Better Learning. (Amerika: Arlington, American Association of School Administrators, 1988), 21; Lihat juga D.J. Brown, Decentralization and School-Based Management, (London: Falmer Press, 1990); J.L. David, “Syntesis of Research on School-Based Management,” dalam Educational Leadership, (Vol. 46 No.8, Tahun 1989), 45-53; Darrel Drury & Douglas Levin, School-Based Management: The Changing Locus of Control in American Public Education, Report Prepared for The US. Departemen of Education, Office of Educational Research and Improvement, by Pelavin Associates; S.A., P. Wohlstetter Mohrman & Associates, School-Base Management: Organizing for High Performance, (San francisco: Jossey-Bass, 1994); Allan Odden & E. Odden, School-Based Management: The View from Down Under, (Brief No. 62, Medison, WI: University of Wisconsin-Madison, Center on Organization and Restructuring of Schools); E. Odden & P. Wohlstetter, Making School Based Management Work, (Educational Leadership, 1995); B. Peterson, How School-Based Management is Faring in Miami, (Education Week, 1991); D. Peterson, School-based Management and Student Performance, (Nassp Eric Digest 61, 1991); John C. Prasch, How to Organize for School-Based Management, (Alexandria, Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development, 1990); P. Wohlstetter & A.R. Odden, Rethinking School-Based Management Policy and Research, (Educational Administration Quartesly, Vol. 28, 1992), 529-549.

[38] W. Edward Deming, Out of the Crisis, (Combridge University Press, Combridge, 1986), 23; W. Edward Deming, Quality, Productivity, and Competitive Position, (Combridge: MIT, Center for Advanced Engineering Study), 21.

[39]J.M. Juran, Juran on Leadership for Quality, (Newyork: Macmillan, 1989), 30; J.M. Juran, Quality Control Handbook, 4th Edition, (New York: McGraw-Hill, 1988), 30; Juran, The Quality Trilogy: A Universal Approach to Managing for Quality, (Quality Progress, Vol. 19, No. 8, 1986), 19-24; J.M. Juran, Quality Planning and Analysis, (New York: McGraw-Hill, 1980), 23.

[40] A.V. Feigenbaum, Total Quality Control, 4th ed, (McGraw-Hill, New York, 1991), 42.

[41] Philip B. Crosby, Quality is Free: The Art of Making Quality Certain, (New York: McGraw-Hill, 1879), 23; Philip B. Crosby, Quality Without Tears: The Art of Hassle-Free Management, (Milwaukee, WI: Quality Press, 1984), 30.

[42] Beberapa tokoh pendidikan menilai mutu dalam bidang pendidikan jauh lebih sulit dibandingkan dengan bidang ekonomi-industri, misalnya: Nuria Lopez Mielgo dkk., “Are Quality and Innovation Management Conflicting Activies?,” dalam Technovation, (Vol. 29, 2009), 537-545; Nina Becket dan Maureen Brookes, “Quality Management Practice in Higher Education: What Quality Are We Actually Enhancing,” dalam Journal of Hospitality, Leisure, Sport & Tourism Education, (Vol. 7, No. 1, 2007), 40-54; John Biggs, “The Reflective Institution: Assuring and Enhancing the Quality of Teaching and Learning,” dalam Higher Education, (Vol. 41, 2001), 221-238; Rhonda K. Reger dkk., “Reframing the Organization: Why Implementing Total Quality is Easier Said Than Done,” dalam Academy of Management Review, (Vol. 19 No. 3, 1994), 565-584. Demikian juga tokoh pendidikan Indonesia, seperti: Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007); Dorothea Wahyu Ariani, Manajemen Kualitas: Pendekatan Sisi Kualitatif, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2003), 34.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.